Neuro Parenting; Mengasuh Anak Berbasis Mengenal Kinerja Otak

Kegiatan silaturahim wali murid baru Lembaga Pendidikan Al Falah Darussalam Tropodo (LPFDT) bersama dr. Aisah Dahlan, Cht, CM.NLP, pada hari Sabtu (3/07) berlangsung secara online menggunakan media Zoom dan Live di akun resmi You tube LPFDT. Dimulai pada pukul 08.30 WIB seluruh peserta webinar mengikuti kegiatan tersebut dengan khidmat hingga akhir acara. Selain informasi dan pengumuman tentang kegiatan pembelajaran yang akan diselenggarakan oleh LPFDT pada tahun ajaran baru, materi tentang neuro parenting menjadi agenda utama dalam kegiatan ini. Materi yang disampaikan sangat tepat sasaran mengingat tujuan penting acara ini adalah memberikan bekal kepada orang tua wali murid dalam mengasuh anak. Sehingga dapat bersinergi dengan LPFDT dalam mencetak generasi pemimpin yang hebat dimasa yang akan datang.

Membuka pemaparannya tentang konsep neuro parenting, dr. Aisah Dahlan mengutip QS. al Isra’[15] ayat 8 yang artinya: “Katakanlah (Muhammad), “Setiap orang berbuat sesuai dengan pembawaannya masing-masing.” Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya. Ayat ini menyinggung tentang cara manusia dalam bersikap dan berperilaku yang ditentukan oleh pembawaannya masing-masing. Sehingga setiap manusia tidak akan mungkin sama dalam bersikap dan berperilaku, karena pembawaan mereka yang berbeda-beda. Kata pembawaan dalam arti ayat diatas menurut kamus ilmu psikologi dikenal dengan istilah watak dan bakat. Sedangkan watak dan bakat manusia dibentuk dan dikembangkan sejak usia dini. Oleh karena itu tugas utama orang tua yaitu membentuk dan mengembangkan watak dan bakat anak dengan menggunakan model pengasuhan yang tepat, salah satunya adalah neuro parenting.

Langkah awal yang harus dilakukan oleh orang tua dalam mengasuh anak menggunakan model neuro parenting adalah dengan mengenali watak dan bakat anak-anak mereka. Watak diturunkan secara genetik. Tidak berubah tapi bisa dibentuk. Program watak yang diturunkan secara genetik melalui kromosom, Allah simpan di bagian otak yang dinamakan lobus parietal. Pada bagian tersebut pula tersimpan data dan informasi mengenai bakat atau kecerdasan seseorang. Lebih lanjut dr. Aisah Dahlan memfokuskan pemaparannya pada bakat atau kecerdasan anak. Menurutnya dalam kondisi pandemi saat ini orang tua memiliki kesempatan emas untuk menggali dan mengenali bakat anak mereka. Mengingat menemukan bakat atau kecerdasan anak melalui proses pengamatan sikap dan perilaku membutuhkan waktu yang panjang dan tidak sebentar.

Konsep neuro parenting sangat memperhatikan kondisi tumbuh dan kembang otak anak, dr. Aisah Dahlan mengingatkan para orang tua untuk senantiasa memperhatikan asupan makanan dan nutrisi untuk otak anak. Tentunya dengan memastikan rezeki yang halalan thoyiban sebagai sumber utama untuk dikonsumsi oleh seluruh anggota keluarga. Selain itu dijelakan pula bahwa menjaga kondisi emosi anak dalam keadaan baik, senang dan bahagia akan membuat mereka mudah menerima informasi dan nasehat. Oleh karena itu baik orang tua dan guru ketika menyampaikan pesan kepada anak agar mereka mudah memahami dan mengingatnya, harus memastikan kondisi emosi mereka dalam keadaan baik. Maka tidak diperbolehkan orang tua dan guru bersikap tidak baik kepada anak, seperti memarahi, menghardik, bahkan bersikap kasar kepada anak. Karena perbuatan tersebut dapat membuat buruk kondisi emosi anak parahnya lagi dapat merusak sel-sel saraf otak. Apabila hal-hal tersebut telah terjadi maka sebaiknya orang tua dan guru segera meminta maaf dan membuat emosi mereka menjadi senang dan bahagia.

Anak-anak yang cenderung lambat dalam menerima dan mencerna informasi yang diberikan, mudah stress, hingga frustasi, maka bisa dipastikan kondisi sel saraf otak mereka tidak berfungsi dengan baik. Hal ini dapat memberikan efek buruk pada tumbuh dan kembang anak, selain menghambat bakat dan kecerdasannya, kondisi watak seorang anak akan terbentuk menjadi watak yang tidak baik. Efek domino ini bisa terjadi jika orang tua dan guru tidak mampu memberikan pendidikan dan pengasuhan yang baik kepada anak. Tidak dipungkiri kondisi pandemi yang tidak kunjung berhenti malah semakin parah ini sangat berdampak pada segala aspek kehidupan. Sehingga memberikan beban pikiran dan mental kepada siapa saja, termasuk orang tua dan guru. Maka sudah seharusnya para orang tua dan guru mampu menjaga kondisi mental mereka senantiasa baik dan sehat. Agar proses pendidikan dan pengasuhan anak dapat maksimal dan optimal maka terlebih dahulu orang tua dan guru perlu memastikan kualitas kesehatan mental mereka.

Mengetahui bakat dan kecerdasan bagi orang tua dan guru juga sangat penting. Orang tua dan guru perlu mengenali bakat atau kecerdasan yang mereka miliki. Karena dengan mengetahui hal tersebut orang tua dan guru mampu mengontrol emosi, terutama tingkat stres yang tinggi akibat banyaknya permasalahan yang dihadapi, dengan melakukan hal-hal yang menjadi minat dan bakat mereka. Melakukan hal-hal yang sesuai dengan minat dan bakat dapat mengalihkan kondisi mental yang buruk akibat stress, menjadi sehat karena perasaan senang dan bahagia yang didapatkan. Seperti bagi orang tua dan guru yang memiliki kecenderungan kecerdasan naturalis dapat melakukan kegiatan memasak, menanam tumbuhan dan memelihara hewan. Kegiatan tersebut sebenarnya juga dapat dilakukan bersama anak-anak, selain dapat mengenalkan berbagai hal-hal baru terutama berkaitan dengan kecerdasan naturalis, juga dapat mengasah kecerdasan naturalis anak yang masih terpendam. Senada dengan pemaparan dr. Aisah Dahlan bahwa kecerdasan atau bakat manusia bersifat laten, tersembunyi atau terpendam dan ada pada setiap manusia, namun dengan kadar perkembangan yang berbeda.

Pada saat sesi diskusi atau bertanya dimulai, berbagai pertanyaan disampaikan oleh audien yang didominasi oleh orang tua wali murid. Ada yang menuliskan pertanyaan pada kolom chat Zoom maupun kolom komentar Youtube. Ada pula orang tua wali murid yang mendapatkan kesempatan untuk bertanya secara langsung dengan terlebih dahulu mengaktifkan fitur rise hand yang terdapat pada aplikasi Zoom. Kemudian moderator menentukan dan mempersilahkan mereka untuk menyampaikan pertanyaannya secara bergantian. Beberapa pertanyaan yang diajukan cukup berbobot dan memberikan wawasan serta informasi baru bagi peserta yang lain. Karena setiap jawaban yang diberikan oleh dr. Aisah Dahlan sangat relevan dengan permasalahan yang ditemui para orang tua wali murid dalam mengasuh anak. Hampir dipastikan seluruh audien tidak beranjak dari kegiatan tersebut hingga akhir acara meskipun hanya menyaksikan dan menyimaknya dari layar gawai atau laptop saja.

Memberikan closing statemen-nya dr. Aisah Dahlan menegaskan agar para orang tua wali murid dan guru harus menjadi orang tua yang menyenangkan, terutama ibu. “Karena jika ibu senang, ayah ikut senang, maka anak merasakan tiga kali senang. Sebaliknya jika ibu sedang kesal, ayah ikut kesal, maka anak merasakan tiga kali kesal. Kalau ibu marah, ayah ikut marah, maka anak tiga kali merasa marah. Maka jadilah ibu yang senang dan menyenangkan agar seluruh anggota rumah senang dan menyenangkan. Kalau merasa capek, istirahat saja. Sampaikan kepada suami untuk izin istirahat sebentar kemudian lanjut seneng lagi.” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

×

Assalamualaikum, Wr.Wb.

Silahkan klik Customer Service di bawah untuk berkomnikasi via WhatsApp atau melalui email alfalah.darussalam@yahoo.com

× Ada yang bisa kami bantu