Literasi Digital Solusi di Tengah Pandemi

Di balik kesulitan pasti ada kemudahan

Di balik pandemi ada literasi digital sebagai solusi

Apa itu pandemi?

Hingga perdetik ini wabah covid 19 masih menjadi berita utama di mana-mana. Semua media lokal, nasional hingga internasional pun beritanya sama, yaitu tentang pandemi COVID 19. World Health Organization (WHO) sudah mengumumkan status pandemi global untuk penyakit virus corona 2019 atau yang juga disebut corona virus disease 2019 (COVID-19). Apa itu pandemi? Dalam istilah kesehatan, pandemi berarti terjadinya wabah suatu penyakit yang menyerang banyak korban, serempak di berbagai negara. Sementara dalam kasus COVID-19, badan kesehatan dunia WHO menetapkan penyakit ini sebagai pandemi karena seluruh warga dunia berpotensi terkena infeksi penyakit COVID-19. 

Dunia pendidikan baru self learning.

Mengutip pidato Mas Menteri Pendidikan Nadiem Makarim dalam memperingati HARDIKNAS 2020. “Belajar memang tidak selalu mudah, tetapi inilah saatnya kita berinovasi. Saatnya kita melakukan berbagai eksperimen. Inilah saatnya kita mendengarkan dan bangsa yang lebih baik di masa depan.” Dari pidato tersebut terdapat pesan bagaimanapun keadaan dan situasi kita belajar harus tetap berjalan.

Merdeka belajar, sesuai dengan teori konstruktivistik. Teori konstruktivistik memandang bahwa pengetahuan adalah non-obyekif, bersifat temporer, selalu berubah dan tidak menentu (Brooks & Brooks, 1983 dalam Degeng, 1998). Davit Setiawan dalam buku best sellernya juga menyebutkan bahwa Life will never the same. Hidup tidak akan pernah sama dan kita harus mengikuti arus perubahan. Dunia pendidikan sudah berubah maka kita sebagai manusia dinamis harus mengikuti perubahan tersebut.

Dengan adanya pembelajaran daring selama covid 19 banyak sekali nilai positif yang bisa diambil. Keberagaman dalam belajar daring (on line) mewarnai dunia pendidikan sekarang. Para tenaga pendidikan akhirnya “terpaksa” melek teknologi. Terpaksa belajar teknologi dan aplikasi baru. Guru senior atau junior pun saling bergotong royong untuk bertukar ilmu demi pembelajaran tetap berjalan. Self learning , belajar sendiri. Kita secara tidak langsung akan belajar dan pandai utek-utek teknologi sendiri. Banyak ilmu baru dibalik kesulitan pandemi. Dengan keterpaksaan pembelajaran jarak jauh akhirnya kita mengerti betapa banyak aplikasi yang bisa memudahkan kita belajar daring.

Meningkatnya literasi digital.

Kita meskipun hanya guru SD pun akhirnya mau tidak mau ikut meramaikan riuhnya literasi digital. Dulu kita hanya sebatas mengajar anak-anak di kelas posisi nyaman. Datang duduk manis, mengajar, dan pulang. Belajar hanya menjadi rutinitas yang terkadang membosankan. Mungkin hanya sebatas memberi video, power point, dan searching google/you tube. Sekarang akhirnya semua guru belajar teknologi dari tingkat guru TK pun akhirnya berliterasi digital.

Salah satu aplikasi digital yang biasa dipakai yaitu google form dan zoom. Kita ternyata baru tahu ada aplikasi yang dengan mudah bisa memfasilitasi kita untuk share soal dan langsung terekap nilaianya. Zoom atau google meet, aplikasi yang juga sangat membantu. Kita bisa melepas rindu bertatap muka dengan para siswa, bahkan meetingpun bisa juga dengan mudah berjalan. Dan kita tetap bisa work from home (WFH) tidak meninggalkan keluarga.

Kerjasama Orang tua.

Untuk mencapai tujuan belajar daring perlu adanya kerjasama orang tua. Penggunan HP sangat penting dalam pembelajaran jarak jauh ini. Pantauan orang tua harus tetap ada agar anak-anak paham apa fungsi dari HP sebenarnya. Kesan siswa dengan adanya daring pun banyak bermunculan diantaranya mereka baru sadar ternyata HP tidak hanya untuk bermain game, banyak fungsi lain yang bisa diexplore dari benda mungil tersebut. Akhirnya mereka banyak berkreasi dengan membuat channel you tube dan menguplod kegiatan positif mereka selama di rumah.

Bagaiamana kesan para orang tua? Pro dan kontra, pro karena para orang tua akhirnya juga melek teknologi dan berliterasi digital. Belajar membuka file word, power point, gog form, zoom dll. Kontra karena dana paketan data dan wifi yang membengkak. Para orang tua juga akhirnya sadar dan muncul empati betapa jasa guru sangat besar dalam mendidik anak-anak mereka. Karena orang tua merasakan sulitnya mentransfer materi dari guru dan dipahamkan ke anak mereka masing-masing.

Hikmah pandemi.

Benar apa kata Mas Menteri Nadiem Makarin dengan adanya pandemi banyak inovasi yang bermunculan. Para guru akhirnya paham banyak sekali aplikasi yang bisa dkreasikan dan belajarpun jauh dari kata bosan. Belajar sudah tidak lagi identik terkurung di kelas tapi di manapun bisa tetap belajar. Dalam Al Quran pun dijelaskan bahwa sesudah kesulitan pasti ada kemudahan (QS. Al Insyirah ; 5)Selamat tinggal keseragaman, selamat datang keberagaman dalam belajar. Merdeka belajar.

×

Assalamualaikum, Wr.Wb.

Silahkan klik Customer Service di bawah untuk berkomnikasi via WhatsApp atau melalui email alfalah.darussalam@yahoo.com

× Ada yang bisa kami bantu